Uniku-Kemenlu Gelar Public Discussion


Uniku-Kemenlu Gelar Public Discussion

UNIKU JAYA – Universitas Kuningan (Uniku) bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI), menggelar kegiatan yang diberi nama "Public Discussion" di Gedung Student Center Iman Hidayat Kampus 1, Senin (04/12/2017).

Kegiatan yang bertajuk "Tantangan dan Way Forward" tersebut, diikuti oleh kurang lebih 350 orang peserta dan dihadiri oleh Sudirman Haseng (Sekretaris Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI), Sun Weide (Kedutaan Besar RRT di Jakarta), Edi Yusuf, MA., (Direktur Asia Timur dan Pasifik Kemenlu RI), Dr. Arifin Saiman, MA., (Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI), Bambang Prihartadi (Kepala Bidang Kerjasama Afrika dan Timur Tengah Kemenkopolhukam RI), Wakil Bupati Kuningan Dede Sembada, ST., Ketua dan Anggota Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Sang Adipati Kuningan (YPSAK) Drs. Djuhari Karnawisastra, M.Pd., dan Hasan Sutardi, M.Pd., Sekretaris dan Bendahara YPSAK Drs. Djudjun Djuanda dan Endi Syaiful Rakhman, SH., Rektor Universitas Kuningan (Uniku) Dr. Dikdik Harjadi, SE., M.Si., beserta jajarannya dan tamu undangan lainnya.

Rektor Universitas Kuningan (Uniku) Dr. Dikdik Harjadi, SE., M.Si., mengatakan, dirinya mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) melalui Bapak Sekretaris Ditjen Asia Pasifik dan Afrika yang telah memberi kepercayaan kepada Uniku sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan "Public Discussion" hubungan bilateral RI-RRT.

"Terimakasih dan selamat datang di Kuningan khususnya di Kampus Uniku. Kabupaten Kuningan adalah salah satu Kabupaten yang memiliki catatan penting dalam tonggak sejarah Indonesia. Karena disinilah tempat dilakukannya perundingan antara Pemerintahan Indonesia dengan Belanda yang dikenal dengan "Perundingan Linggarjati". Semoga dengan suasana kesejukan alam Kabupaten Kuningan, kegiatan hari ini akan menghasilkan gagasan dan pemikiran yang strategis dalam kerangka hubungan bilateral Indonesia-RI," tuturnya.

Hubungan Indonesia-RRT adalah suatu hal yang amat penting, baik bagi Indonesia maupun RRT sendiri. Hubungan bilateral Indonesia-RRT yang pernah membeku sepanjang pemerintahan orde baru, kini nampak semakin meningkat dan bahkan RRT merupakan salah satu mitra penting bagi Indonesia.

"Secara geopolitik, posisi Indonesia sangat strategis di kawasan Asia Pasifik dan Selat Malaka. Sedangkan, secara ekonomis, Indonesia adalah Negara yang sangat kaya sumber daya alam dan mineral baik di darat maupun di laut. Disamping itu, dengan jumlah penduduk kurang lebih 250 juta jiwa, Indonesia adalah pasar potensial bagi produk-produk negara industri. Sementara RRT dengan menggunakan system "Open Door Policy" telah mengubah negara ini menjadi negara superpower baru yang bisa menyaingi kekuatan Amerika Serikat terutama dalam hal ekonomi (memiliki devisa USD 3,95 Trilyun)," jelasnya.

Ditambahkannya, mengingat kedua negara memiliki kondisi nasional dan tingkat pembangunan ekonomi yang berbeda, maka diharapkan hubungan kerjasama Indonesia dan RRT harus ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, saling menghormati, saling menguntungkan (mengingat neraca perdagangan Indonesia dengan RRT yang masih defisit) dan berdasarkan dukungansumber daya, iklim investasi, struktur ekonomi dari kedua negara.

"Melalui diskusi hari ini, kita berharap akan muncul pemikiran, ide maupun gagasan yang dapat menjadi bahan rekomendasi baik bagi Pemerintahan Indonesia sendiri maupun pemerintahan RRT dalam mengembangkan kerjasama bilateral kedua negara," tambahnya.

Sedangkan, Bupati Kuningan yang diwakili oleh Dede Sembada, ST., dalam sambutannya, mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya kegiatan yang diselenggarakan hasil kerjasama Uniku dengan Kemenlu RI melalui Ditjen Asia Pasifik dan Afrika.

"Terimakasih dan penghargaan yang setingginya kepada seluruh jajaran pimpinan Uniku dan panitia pelaksana kegiatan "Public Discussion", yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut dengan matang sehingga bisa berjalan dengan baik. Dan, saya ucapkan selamat datang kepada para tamu undangan di Kabupaten Kuningan. Perlu diketahui bersama, bahwa Uniku ini merupakan Kampus kebanggannya masyarakat Kabupaten Kuningan," tuturnya.

Lembaga pendidikan memiliki tugas penting yaitu menciptakan pribadi-pribadi yang berkarakter kuat secara moral dan kultural. Secara moral, mahasiswa diharapkan mempunyai integritas yang kuat. Sedangkan, secara kultural mempunyai landasan budaya pribadi dan social untuk kemajuan. Namun tetap berpijak pada karakter masyarakat dan bangsa.

"Pendidikan harus sadar dengan kebutuhan pengetahuan dan teknologi masyarakat dalam kata lain, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menciptakan sumber daya manusia yang punya daya saing tinggi. Terciptanya sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, tentu akan mendukung meningkatnya daya saing bangsa dan Negara umumnya dan Kabupaten Kuningan khususnya," jelasnya.

Sementara itu, Sudirman Haseng (Sekretaris Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI) dalam sambutannya, mengatakan, dirinya sangat berbahagia bisa hadir dalam acara "Public Discussion" di Kampus Universitas Kuningan (Uniku) sebagai bentuk reach out programme Kemenlu untuk menyampaikan perkembangan kerjasama Indonesia dengan Negara-negara sahabat termasuk dengan Tiongkok.

"Kemenlu senantiasa membangun sinergi dengan kalangan akademisi untuk multi track diplomacy guna membangun pemahaman yang lebih baik mengenai kerjasama bilateral yang dikembangkan RI-RRT. Upaya serupa telah dilakukan oleh Direktorat Astinpas di berbagai Universitas di Jawa Barat yaitu Unpad, Unpar dan Unpas," tuturnya.

Kami mendukung semangat Uniku untuk go internasional. Semangat ini, sejalan dengan semangat pemerintah untuk meningkatkan kerjasama dengan Tiongkok khususnya dalam memperkuat hubungan antar masyarakat.

"Uniku memiliki modalitas untuk mendorong kerjasama ini. Uniku telah memiliki MoU kerjasama dengan Setjen Kerjasama ASEAN. Kemenlu untuk pendirian Pusat Studi ASEAN (PSA) serta MoU kerjasama dengan Universitas di Thailand dan Malaysia. MoU serupa dapat di kembangkan Uniku dengan Tiongkok yang saat ini menjadi salah satu tujuan pendidikan bagi pelajar di Indonesia," jelasnya.

Lebih lanjut, Indonesia dan RRT merupakan mitra penting di kawasan terlebih dengan dibentuknya kemitraan strategis, komprehensip RI-RRT pada tahun 2013. "Mekanisme kerjasama RI-RRT juga berkembang di berbagai bidang, baik di tingkat Kepala Negara, tingkat Menko-Wakil PM/State, Councilor RRT, Menlu dan tingkat teknis," pungkasnya.