Teater Pecut Dapur Sastra Uniku Menggelar Road Show to School


Teater Pecut Dapur Sastra Uniku Menggelar Road Show to School

UNIKU JAYA - Setelah sukses menggelar pertunjukan “Kalangkang” karya Nazaruddin Azhar tahun lalu selama dua minggu di Gedung Kesenian Kuningan, kali ini Teater Pecut Dapur Sastra Universitas Kuningan (Uniku) kembali mementaskan lakon lawas berjudul “Bimbang Dewi Rara” yang ditulis oleh Aan Sugiantomas. Berbeda dengan pertunjukan sebelumnya yang selalu digelar di Gedung Kesenian Kuningan, kali ini Teater Pecut mengusung format pementasan baru, yaitu mendatangi sekolah-sekolah di luar dan di dalam Kabupaten Kuningan (Road Show).

 

“Kami mengusung format baru, yaitu road show. Tujuan road show kami selain memperkenalkan teater di kalangan pelajar (khususnya pelajar yang jauh dari kota) juga sekalian menjalin tali silaturahmi dengan pihak sekolah” tutur Aan Anjasmara (pimpinan roduksi) ketika dimintai keterangannya, Selasa (16/01/2018).

 

Ketika ditanya tentang jumlah personil yang terlibat dalam pementasan ini, Aan Anjasmara menjelaskan “Personil yang terlibat dalam pementasan ini berjumlah sekitar 40 orang. Semuanya adalah mahasiswa Universitas Kuningan. Sekolah yang dikunjungi dalam pentas road show ini baru dua sekolah yaitu SMKN 4 Kuningan dan SMK Budi Bhakti Mandirancan. Di SMKN 4 Kuningan (tempat pentasnya di Desa Waled) pertunjukan di gelar dalam satu hari. Sedangkan di Budi Bhakti Mandirancan dari tanggal 11 s.d 14 Januari 2017. Masih banyak sekolah yang akan kami kunjungi. Namun kami pun berhitung dengan waktu, mengingat kami akan menghadapi Festival Drama Basa Sunda (FDBS) di Bandung bulan April yang akan datang” lanjut Aan Anjasmara yang merupakan Kepala Dapur Sastra sekaligus dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Uniku ini.

     

Sementara itu, Arip Hidayat sutradara Teater Pecut Dapur Sastra menyatakan bahwa pentas ini merupakan ajang pembelajaran bagi anggota. Ia pun menyatakan bahwa yang terpenting bagi sebuah teater kampus adalah pembelajaran dan regenerasi.

 

“Teater kampus harus terus melakukan regenerasi, karena sifat keanggotaannya dibatasi oleh masa perkuliahan. Tidak ada jalan lain bagi teater kampus agar tetap eksis selain terus melakukan proses garapan yang kontinyu. Proses garapan yang kontinyu pun merupakan ajang pembelajaran yang efektif bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuannya di wilayah seni peran,” ujarnya.

  

Lakon Bimbang Dewi Rara berdurasi sekitar  dua jam lima belas menit. Lakon ini sendiri bercerita tentang kebimbangan seorang perempuan (Dewi Rara) yang dipinang oleh raja tua bernama Raga. Raga sendiri mengancam perang kepada raja Dola (ayah Dewi Rara) apabila keinginannya tidak dipenuhi. Di sisi lain, Dewi Rara pun jatuh hati pada Arjuna. Dewi Rara berada dalam situasi bimbang. Ia hanya punya tiga pilihan; menerima pinangan Raja Raga yang berarti damai, memperjuangkan cintanya kepada arjuna yang berarti perang, atau tidak keduanya. Akhirnya, Dewi Rara pun (dengan dibantu Emban) pergi meninggalkan kerajaan dan berguru kepada Arjuna. Dalam masa bergurunya, kisah cinta antara Dewi Rara dan Arjuna terjalin. Raga yang merasa ditolak akhirnya mengobarkan peperangan. Peperangan pun tidak dapat dihindarkan.

 

Sampai saat ini, dari dua sekolah yang dikunjungi tercatat sudah sekitar 1.500 lebih pelajar yang mengapresiasi pertunjukan ini. Ketika ditanya tentang kesan setelah menyaksikan pertunjukan, para pelajar itu menyatakan bahwa pertunjukan yang disajikan sangat menghibur, seru, dan menegangkan.

 

Beberapa guru yang ditemui seperti Henky Pratama, S.Pd (Guru SMKN 4 Kuningan) menyatakan bahwa road show Teater Pecut Dapur Sastra Uniku ke sekolah sangat membantu dirinya dalam mengajarkan tentang drama kepada siswa. Senada dengan Hengky Pratama, Dedi Purnama, S.Pd. (Guru SMK Budi Bhakti Mandirancan) menyatakan bahwa pembelajaran drama akan lebih bermakna apabila diawali dari mengapresiasi pertunjukan secara langsung. Hal itu akan memberikan kesan tersendiri kepada siswa.

 

“Program road show sendiri tidaklah mudah. Dari mulai persiapan sampai pementasan sangat menguras energy. Selain dana dan jarak, kami juga dihadapkan pada persoalan bagaimana mengatasi tempat pertunjukan yang penuh keterbatasan. Tapi hal itu tidak menjadi soal, sebab pekerja kreaif harus mampu mengubah keerbatasan menjadi kelebihan” Sambung Ipan Jante selaku astrada.

 

(Sumber : Teater Pecut / Dapur Sastra / PBSI / FKIP / Uniku-red)