Peringati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ini Giat KSK Fahutan Uniku


Peringati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ini Giat KSK Fahutan Uniku

UNIKU JAYA – Dalam rangka Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Kelompok Studi Konservasi (KSK) Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Kuningan (Uniku) bekerjasama dengan Komunitas Kukangku, IAR Indonesia, Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dan BBKSDA Jawa Barat beserta partisipasi dari Sispala Karmapala SMAN 1 Luragung menggelar kampanye menyuarakan perlindungan habitat dan pelestarian satwa liar di Indonesia di acara Car Free Day (CFD) hari Minggu tanggal 04 November 2018 kemarin.

Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang jatuh pada tangga; 05 November 2018 setiap tahunnya sejak 1993 silam.

Koordinator aksi Agung Kurnia saat dimintai keterangannya, Rabu (07/11/2018), mengatakan, kampanye pada peringatan HCPSN ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan, pelestarian puspa dan satwa liar di Indonesia, khususnya di Kabupaten Kuningan.

“Di Kuningan ini ada Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang memiliki potensi puspa dan satwanya jarang sekali orang diketahui. Kami tidak ingin ketidaktahuan ini malah menjadi ancaman kelestarian puspa dan satwa kita,” ujarnya.

Dalam kampanyeu tersebut, diisi dengan beragam kegiatan seperti longmarch, teatrikal, pameran foto edukasi puspa dan satwa, hingga penggalangan dukungan dari masyarakat luas sebagai komitmen untuk berperan aktif menjaga lingkungan.

“Aksi ini menegaskan sebenarnya tidak sekadar peringatan tahunan saja. Lebih dari itu, momen ini menjadi sebuah gerakan kepedulian membangun dan mengajak setiap orang untuk berperan dalam upaya menjaga alam,” jelasnya.

Lebih jauh, sambung mahasiswa aktif dari Fahutan itu, mengatakan, aksi yang dilakukan bersama-sama ini bisa menjadi solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi puspa dan satwa kita sebagai bagian dari identitas dan jati diri bangsa.

“Tantangan konservasi saat ini menghadapkan pada berbagai ancaman kerusakan dan kepunahan puspa dan satwa. Kerusakan habitat yang disebabkan oleh kebakaran, alih fungsi lahan, penebangan liar adalah sejumlah permasalahan serius yang harus segera dibenahi,” sambungnya.

Ancaman semakin diperburuk dengan maraknya kejahatan terhadap satwa liar seperti perburuan, perdagangan, pemeliharaan satwa dilindungi hingga terror senapan angin.

“Permasalahan dan ancaman ini, tidak akan berakhir jika kesadaran masyarakat masih rendah. Maka oleh karena itu, diperlukan partisipasi masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya pelestarian,” pungkasnya. (Ailla)