ITB Siap Dampingi Uniku Jadi Perguruan Tinggi Unggulan


ITB Siap Dampingi Uniku Jadi Perguruan Tinggi Unggulan

UNIKU JAYA - Universitas Kuningan (Uniku) dan Institut Tehnologi Bandung (ITB) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di bidang penelitian, pendidikan dan pengabdian masyarakat. MoU ini menjadi payung bagi kedua perguruan tinggi dalam melakukan kolaborasi akademik. MoU ditandatangani oleh Rektor Uniku, Dr. Dikdik Harjadi, M.Si dan Rektor IT. Prof. Dr. Kadarsyah Suryadi, DEA. di lantai 3 Gedung Annex ITB, Jalan Tamansari No. 1 Bandung, Selasa (26/7/2018)

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Ir. Bermawi Priyatna Iskandar, M.Sc.,Ph.D. mengungkapkan rektor ITB berpesan bahwa untuk membangun bangsa Indonesia yang demikian besar membutuhkan banyak universitas yang berkualitas dan merata di setiap kawasan di Indonesia dari Sabang hingga Papua.

“Perguruan tinggi berkualitas di Indonesia itu tidak banyak. ITB berharap bermunculan universitas swasta unggulan. Disparitas kualitas perguruan tinggi di Indonesia begitu lebar. Dengan kualitas yang beragam itu perlu clustering. Perlu satu pola pembinaan yang berkelanjutan agar disparitas tersebut bisa teratasi,” papar Bermawi.

Bermawi mengatakan ITB siap mendampingi PTS-PTS termasuk Universitas Kuningan (Uniku) sehingga bisa menjadi perguruan tinggi unggulan. Terlebih lagi, Uniku termasuk satu dari delapan universitas yang menjadi perguruan tinggi asuh ITB.

“Apa yang baik di ITB bisa tertular ke perguruan tinggi lain sehingga disparitas kualitas yang terjadi selama ini bisa diatasi. Berbeda dengan di luar negeri, di Perancis atau Jerman, tidak ada disparitas antara kampus kecil dan kampus besar. Secara fisik suatu perguruan tinggi di kawasan pedesaan di Perancis kualitasnya tidak jauh berbeda dengan perguruan tinggi yang berada di jantung kota Paris,” imbuhnya.

Rektor Uniku, Dr. Dikdik Harjadi, M.Si. menyampaikan apresiasinya kepada ITB yang bersedia melakukan pembinaan terhadap pengembangan sistem penjaminan mutu internal (SPMI) dan sistem penjaminan mutu eksternal (SPME) Uniku dalam satu Program Hibah Perguruan Tinggi Asuh ITB 2017.

“Kami berharap Program Hibah Perguruan Tinggi Asuh ITB ini berkelanjutan, tidak hanya dalam satu tahun. Karena capaian akademik luar biasa yang diraih ITB perlu ditularkan kepada PTS-PTS lainnya termasuk kepada Uniku. Baik capaian-capaian pengakuan lembaga akreditasi nasional seperti BAN PT dan LAM juga lembaga-lembaga akreditasi internasional. Pendeknya, kami ingin belajar banyak kepada ITB,” ujar Dikdik.

Perbaikan Berkelanjutan: Workshop dan Pendampingan ITB


Kemenristekdikti menunjuk Institut Tehnologi Bandung (ITB) untuk membina dan mengasuh delapan (8) perguruan tinggi (1 PTN dan 7 PTS) untuk meningkatkan mutu layanan, menumbuhkan budaya serta meningkatkan mutu program studi melalui penguatan sistem penjaminan mutu internal (SPMI).

Delapan perguruan tinggi tersebut antara lain Politeknik Negeri Batam, Universitas Sangga Buana YPKP Bandung, Universitas Kuningan, Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Universitas Bale Bandung, Universitas Kebangsaan, Universitas Garut, dan Universitas Al-Ghifari Bandung.

“ITB diundang oleh Kemenristekdikti dan diminta untuk membina dan mengasuh perguruan tinggi negeri dan swasta yang berada pada kluster 3 dan 4. Diutamakan program studi pada perguruan tinggi yang telah mendapatkan bimtek SPMI dari Direktorat Penjaminan Mutu,” ujar Dr. Pepen Arifin, Ketua Satuan Penjaminan Mutu ITB dalam sesi Kick of Meeting dan Workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal dalam rangka Program Perguruan Tinggi Asuh ITB 2017, Bandung, Selasa (25/7/2017)

Pepen Arifin menjelaskan desain program Hibah Perguruan Tinggi Asuh ITB 2017 ini meliputi Workshop SPMI, pendampingan penyusunan SPMI, reviu dan analisis borang akreditasi, workshop sistem penjaminan mutu eksternal (SPME) dan pendampingan SPME.

“Selain itu, masing-masing perguruan tinggi bisa mengundang tim SPMI ITB untuk mengadakan Workshop di Perguruan tinggi masing-masing, dirangkai dengan Workshop ke 3 di ITB dan dklanjutkan dengan program magang beberapa hari di ITB,” ujar Pepen.

ITB juga siap menjembatani kemungkinan adanya kolaborasi akademik lainnya dengan 8 perguruan tinggi yang berada di bawah binaan dan asuhan ITB.

“Kami membuka diri untuk kerjasama akademik dengan universitas lain, terutama 21 prodi yang menjadi sasaran program hibah perguruan tinggi asuh ITB. Tujuannya untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi terutama prodi-prodi yang masih terakreditasi C,” imbuhnya.

Ia menjelaskan program Perguruan Tinggi Asuh ini dilatarbelakangi oleh masih banyak jumlah perguruan tinggi yang memiliki program studi yang berakreditasi C dan belum terakreditasi.

“Dari Perguruan Tinggi di Indonesia yang berjumlah 4468, baru 26 perguruan tinggi yang berakreditasi A, 296 berakreditasi B dan 690 perguruan tinggi berakreditasi C. Sementara dari ribuan program studi yang ada di Indonesia, baru 2219 prodi yang terakreditasi A, 8554 terakreditasi B, 8130 terakreditasi C dan 6022 belum terakreditasi,” urainya.

 

 

(Sumber : Jabartoday.com)