Dapur Sastra Gelar Ngobong Dengan Tema Ngaben


Dapur Sastra Gelar Ngobong Dengan Tema Ngaben

UNIKU JAYA - Awal sebuah proses panjang dilalui dengan penuh cinta dan kepedulian terhadap sebuah karya. Generasi muda merupakan harapan bangsa , pemikiran atau ide-ide yang luar biasa dari setiap generasi muda menjadi sebuah senjata mengangkat bangsa lebih maju dan berkualitas. Bakat-bakat yang sebenarnya ada namun tidak tersalurkan , sungguh sangat di sayangkan ketika semua dasar pemeroleh seni telah tercapai. Banyak sanggar atau komunitas yang didirikan oleh para apresiator seni, namun masih terbentur oleh masalah lokasi dan publikasi.

Maka dari itu, Dapur Sastra sebagai laboratorium sastra di Universitas Kuningan (Uniku) merupakan wadah yang tepat bagi mahasiswa  yang ingin dan mau  ikut berproses dalam penciptaan sebuah karya dan apresiasi dalam karya seni tersebut.

Dengan di dasarkan kecintaan tersebut di harapkan generasi muda yang penuh dengan ide dan kreatifitas bisa terus berinovasi dalam pemerolehan sebuah karya dan ikut peran aktif dalam seni tersebut.

Bentuk dukungan dari Universitas Kuningan (Uniku) sebagai lembaga pendidikan yang turut andil sangat terasa walaupun bentuk apresiasi setiap manusia berbeda-beda.

Tema

Bali merupakan suatu wilayah yang terdapat di indonesia dengan berbagi keunikan dari setiap suku yang ada, dari berbagai macam upacara yang dilakukan di wilayah tersebut tersudutlah sebuah ketertarikan pada upacara NGABEN (PEMBAKARAN MAYAT).  Di Bali uparaca NGABEN di lakukan sebagai tradisi yang terus berjalan dari masa kemasa, upacara ini adalah upacara yang di sakralkan karna menurut orang Bali atau hindu NGABEN bukan hanya sekedar membakar jasad yang di tinggalkan oleh ruhnya.  Pada kepercayaannya, NGABEN ialah suatu proses upacara untuk menghantarkan orang yang telah meninggal pada kehidupan yang selanjutnya. Selain itu orang Bali atau hindu percaya bahwa ketika orang telah meninggal maka ia akan berreinkarnasi di kehidupan mendatang. Reinkarnasi ialah suatu proses dimana lahir kembali atau kelahiran semula, merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa seorang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil perbuatannya terdahulu.

Begitupun yang terjadi dalam sebuah komunitas bahwa haruslah lahir sebuah pemikiran  atau idiologi pada wujud lain. Dalam hal ini maka pemikiran-pemikiran atau idelogi yang telah ada haruslah berinkarnasi agar idiologi yang telah di terapkan dari pendahulunya tetap terjaga.

Hal ini dilakukan agar ada sebuah pemahaman konsep yang merata antar individualnya.

Dapur Sastra ialah komunitas seni dalam kampus yang di bentuk oleh Aan Sugiantomas, M.Si. yang bertujuan untuk mewadahi mahasiswa dengan bakat seninya.  Dapur Sastra di dalamnya terdapat lima dapur ekspresi yaitu dapur ekspresi seni peran, dapur ekspresi seni musik, dapur ekspresi seni rupa, dapur ekspresi seni tari, dan dapur ekspresi seni bahasa. Terkait dengan hal itu maka haruslah ada suatu proses reinkarnasi dari tiap daeknya.

Dari lima (5) dapur ekpresi tersebut ialah sebuah jalan atau garis kehidupan bagi anggota baru dalam menentukan pilihannya.

Dalam bahasa sangsakerta lima ialah panca. Terkait dengan hal tersebut kata panca mempunyai sebuah kekuatan spiritual  di bandingkan dengan kata lima. Selain itu dalam bahasa sunda garis adalah gurat sama halnya dengan panca gurat ialah sebuah kata yang tidak popoler di kalangan masyarakat dan ketika mendengarnya sangatlah unik untuk di terapkan dalam konsep ini. Secara keseluhuran maka di ambillah kata pancagurat yaitu sebagai peralihan dari lima dapur ekspresi yang ada di Dapur Sastra.

Maka dalam hal ini ada suatu proses penarikan sebuah tema yaitu reinkarnasi pancagurat yang mempunyai arti harfiah yaitu bahwa dari lima dapur ekpresi yang terdapat di dapur sastra haruslah ada suatu proses reinkarnasi pemikiran yang di harapkan pada anggota baru dapur sastra sesuai dengan ideologi, gaya, maupun karakter yang di terapkan dari pendahulu Dapur Sastra.

 

(Sumber : Deni / Dapur Sastra / PBSI / FKIP / Uniku-red)